Senin, 08 Februari 2010

Nanotech dipergunakan untuk membuat baterai dari kertas

Para peneliti dari Universitas Standford sudah menggunakan teknologi nano untuk menciptakan baterai yang ringan dan bahkan bisa dilipat yang dibuat dari kertas.

Baterai kertas ini dirancang untuk bisa dilipat, diremas dan bahkan direndam dalam larutan asam dan masih bisa bekerja dengan baik. Itu menurut Yi Cui, asisten profesor dari bidang materials science and engineering Universitas Standford. Team ini menciptakan baterai dengan melumuri selembar kertas dengan tinta yang terbuat dari carbon nanotube dan silver carbonwire.

Standford belum memberi indikasi kapan teknologi ini akan diluncurkan untuk kebutuhan komersial.

"Bagian yang terpenting adalah bagaimana menciptakan benda sederhana yang sehari-hari kita gunakan yaitu kertas, bisa digunakan sebagai bahan dalam pembuatan elektroda yang berfungsi konduktif dengan proses yang sederhana", ungkap Pei Dong Yang, Profesor Kimia dari Universitas Barkeley, California. Pernyataan itu terungkap dalam perbicangan dengan topik "It's nanotechnology related to daily life, essentially."

Nanotube yang digunakan dalam baterai kertas dan super-kapasitor merupakan struktur satu dimensi dengan diameter kecil, yang memungkinkan tinta yang terbuat dari material tersebut terserap dan menepel pada kertas. Universitas mencatat bahwa super-kapasitor kertas kemungkinan mampu untuk menangani 40.000 siklus charge-discharge, dimana merupakan hitungan yang melebihi kemampuan dari baterai lithium.

Cui menekankan bahwa material nano merupakan konduktor yang lebih baik dibandingkan dengan material konvensional karena material nano mampu menggerakkan listrik lebih efisien.

Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan terbaru yang dilakukan para peneliti yang berhubungan dengan teknologi nano dalam penelitian dan pengembangan baterai.

Musin panas tahun lalu, IBM meluncurkan project penelitian baterai multi-year menggunakan nanotechology, material science dan supercomputing.

Di bulan April tahun lalu, para peneliti dari MIT melaporkan bahwa mereka sedang melakukan penelitian dalam menggabungkan teknologi nano dengan virus yang dibangun secara genetik untuk menciptakan baterai yang mampu memberi energi pada mobil hybrid dan cell phone.

Dan sebelumnya, peneliti lain dari Universitas Standford nanowire dari silikon untuk menciptakan baterai lithium-ion yang mampu di-charge 10x lebih banyak dari biasanya. Ini artinya sebuah laptop bisa bertahan selama 40 jam setelah di-charge dengan menggunakan baterai baru ini, demikian ungkap Cui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar